![]() |
| Kebun dan Ladang |
KalimantanAsia.Com, MALUKU UTARA - Angin laut masih berembus pelan di Pulau Obi, Maluku Utara. Di beberapa lokasi, kebun dan ladang masih tetap produktif menemani ritme aktivitas warga yang tak lagi sama. Aktivitas industri kini lebih akrab dengan warga, seperti lalu-lalang truk membawa material tambang menuju pusat pengolahan.
Namun tak semua warganya berjibaku dengan industri tambang. Ada Darwan
Aduhasan (33), yang bertahan sebagai petani, meski ia sadar, pilihannya
itu tak lagi populer di Pulau Obi. "Sebagian besar warga di Pulau Obi
beralih ke sektor tambang dan meninggalkan pertanian," kisah Darwan.
Darwan merupakan salah satu pemuda yang pernah mendapatkan penawaran
bekerja di tambang. Namun, ia lebih tertarik bekerja menggarap lahan
untuk bertani. Ia melihat, potensi pertanian di wilayah tersebut sangat
besar untuk dijadikan sumber ekonomi.
Tingginya permintaan komoditas pertanian di lokasi tambang itu membuat Darwan semakin getol melihat peluang pasar.
“Dari situlah muncul ide dan gagasan saya bersama teman-teman untuk membentuk kelompok tani milenial. Tujuannya adalah mengembalikan citra petani sebagai profesi yang bermartabat, mampu menghidupi keluarga, dan membiayai pendidikan,” kata Darwan.
Komunitas tersebut berkembang, dan tahun ini ditargetkan ada 100 petani
yang tertarik ikut bertani sama mereka. “Kami menargetkan ada 100 petani
yang aktif mengelola sawah, hortikultura, hingga komoditas seperti
semangka,” jelas Darwan yang sebelumnya masih memiliki anggota 28 orang.

